"Rather than Thinking to Build. Build to Think" - Tim Brown
Design Thinking merupakan pendekatan kreatif dalam pemecahan masalah yang berfokus pada pengguna yang mengutamakan kebutuhan serta pengalaman mereka. Pemecahan masalah berawal dari pemilik masalah dan berakhir untuk pemilik masalah.
Design Thinking menggunakan proses berulang yang bertujuan untuk memahami pengguna, menantang asumsi, untuk kemudian mendefinisikan kembali masalah dan menemukan solusi alternatif yang mungkin tidak langsung terlihat dari proses awal. Pendekatan ini mengutamakan empati dan pemahaman mendalam terhadap pengguna, sehingga solusi yang nantinya dihasilkan menjadi lebih relevan dan berdampak.
Untuk melakukan pendekatan Design Thinking ini, ada 5 tahapan yang harus dilakukan, walaupun tahapan ini bersifat iteratif dan tidak selalu dilakukan secara berurutan. 5 tahapan tersebut adalah:
1. Empati
Tahapan penting dalam Design Thinking, dimana kita berusaha untuk memahami kebutuhan, keinginan dan tantangan pengguna produk atau layanan kita melalui observasi dan interaksi langsung. Kita harus mengesampingkan asumsi pribadi dan merasakan kendala pengguna.
Empati ini melibatkan beberapa hal:
- Pemahaman emosional - mengerti perasaan orang lain, misalnya sedih, sedang atau cemas
- Perspektif - mencoba melihat situasi dari sudut pandang mereka
- Respon yang tepat - menunjukkan kepedulian melalui kata-kata maupun kata-kata yang mendukung
Empati ini tidak sama dengan simpati. Simpati hanya merasa kasihan, sedangkan empati mencoba benar-benar memahami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh orang lain.
Contoh empati adalah pada saat teman kita merasa sedih karena kehilangan sesuatu, kita tidak hanya mengatakan "ikut sedih", tetapi juga berusaha memahami rasa kehilangan itu dan memberikan dukungan yang sesuai.
Ada beberapa cara untuk berempati:
- Wawancara, kita bisa langsung melakukan wawancara kepada pemilik masalah
- Observasi, kita bisa melakukan observasi untuk memperhatikan keadaan pemilik masalah
- Riset atau menggali informasi, kita bisa melakukan riset atau penggalian informasi mengenai pemilik masalah
Dalam berempati kita mencoba untuk memahami kebutuhan pemilik masalah, menempatkan diri ke dalam posisi mereka. Tujuannya adalah agar solusi yang diciptakan nanti betul-betul menjawab kebutuhan pemilik masalah, bukan hanya atas dasar asumsi kita.
2. Define atau mendefinisikan masalah melalui "Bagaimana Caranya Kita?"
Photo by Hoi An and Da Nang Photographer on Unsplash
Menganalisis atau melakukan sintesis dari hasil pengamatan pada tahap Empati untuk merumuskan masalah inti dalam bentuk problem statement yang berfokus pada manusia.
Ini bisa dilakukan dengan mengubah kalimat masalah menjadi kalimat "Bagaimana Caranya Kita? (BCK)"
Contoh dari kasus Gojek (Transportasi):
Hasil Empati: Penumpang susah mencari ojek, sedangkan ojek pangkalan susah cari penumpang karena macet dan lokasi.
Kalimat BCK: Bagaimana Caranya Kita mendapatkan cara cepat untuk menemukan ojek dan pengemudi ojek mendapatkan kepastian penghasilan dan kemudahan mendapatkan penumpang?
3. Ideasi
Tahapan dimana kita menciptakan sebanyak mungkin ide lalu memilih salah satu untuk menjawab pertanyaan BCK.
Ideasi ini ada 2 bagian:
- Diverge/Menyebar, merupakan fase penciptaan solusi. Be Open Minded. Bersenang-senanglah dengan ide, serta jangan takut salah. Ciptakanlah ide bahkan sampai yang paling liar sekalipun, bahkan sampai ide yang sepertinya tampak tidak mungkin dilakukan. Cukup keluarkan setiap ide yang muncul dan melintas di kepala. Pada bagian ini, yang penting adalah kuantitas, bukan kualitas.
- Converge/Memusat, fase memilih solusi yang terbaik. Dari kumpulan ide yang kita dapat dari diverge, kita memulai memilih solusi terbaik. Bagian ini kita mencari kualitas dari ide untuk nantinya kita wujudkan menjadi sesuatu yang nyata.
Caranya dengan memilih dan memilah ide melalui grafik dampak dan usaha.
Grafik Dampak dan Usaha
Kita bisa memetakan setiap ide yang dihasilkan saat Diverge, ke dalam grafik dampak dan usaha. Tujuan kita adalah mendapatkan ide yang dampaknya paling besar dan usaha yang paling minimal.
4. Protipe
Photo by Sebastien Bonneval on Unsplash
Mengubah ide terbaik menjadi bentuk fisik atau visual yang nyata, namun murah dan mudah untuk simulasi. Prototipe dapat berupa sketsa, model, atau versi sederhana dari produk akhir.
5. Uji Coba
Demikianlah 5 tahapan dari pendekatan Design Thinking.
Pendekatan Design Thinking ini sangat penting dalam menciptakan solusi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pengguna atau pemilik masalah. Pendekatan ini memungkinkan kolaborasi antara kreativitas, empati dan analisis, sehingga dapat menghasilkan produk dan layanan yang lebih baik. Tim pengembang produk dan layanan juga dapat merespon perubahan dan tantangan kompleks dengan lebih efektif.
Pendekatan Design Thinking ini sudah dilakukan dalam berbagai bidang, diantaranya dalam bisnis, teknologi, pendidikan dan pelayanan publik, untuk meningkatan efisiensi dan inovasi dalam pengembangan produk dan layanan.
Apakah kamu punya pengalaman dalam melakukan pendekatan Design Thinking ini? boleh ya kamu ceritakan pengalamanmu dalam kolom komentar.
#KLIP2026
#IbuProfesional
#KelasLiterasi
#KonsistenMenulis
#KonsistenMenulis
#Hari17






























